Jogja Kembali

(Semoga ini menjawab pernyataan yang terlontarkan atau terpikirkan :D)

Senja Utama penuh sesak. Tempat duduk sederhana, angin dingin yang memasuki jendela, dan riuhnya para pedagang serta pengamen tak menghalangi niatan untuk melepas rindu pada keluarga dan khususnya ibunda tercinta. Yogyakarta, rasanya tak sabar untuk kembali menginjakkan kaki di kotamu. Tak seperti kepulanganku sebulan lalu, kali ini aku akan pulang cukup lama. Libur 17-an ditambah isra’ mi’raj menambah waktu liburku menjadi lima hari. Setengah sembilan lewat ketika akhirnya kereta melaju. Kami berlima waktu itu, tak tahu siapa yang akan duduk terpisah. Untunglah, tempat duduknya berhadapan. Jadi tak akan ada masalah.

Sebulan sekali kami berlima berusaha untuk pulang, walaupun itu berarti kami harus merelakan sepuluh jam duduk di kereta pada jumat malam, dan sepuluh jam lagi pada minggu malam. Hanya itulah waktu yang biasanya ada untuk memenuhi panggilan hati, bertemu orang tua, saudara di yogyakarta. Dan Senja Utama adalah pilihan yang cukup masuk akal. Aku sempat terheran dengan komentar banyak teman tentang kepulanganku yang begitu sering. “Wah, anak mami tho”. Sebuah komentar yang terasa agak negatif, seolah ingin mengatakan bahwa aku ini anak manja, yang tak bisa jauh dari orang tua Bukan, bukan begitu. Bukan karena aku tidak bisa jauh dari mereka, aku hanya tidak ingin. Jika sekarang kenyataannya harus begitu, maka selagi aku masih punya waktu, masih diberi kekuatan, belum ada tanggungan keluarga sendiri, aku ingin sedikit berbakti pada keluarga yang telah membesarkanku dengan sebaik ini, karena hanya itulah yang dapat kulalukan saat ini.  Salahkah bila aku ingin sering bertemu ibu, ayah, dan adekku yang selalu memberikan segala yang terbaik yang mereka punya untukku. Anehkah jika aku ingin sering bersua dengan orang-orang yang kucintai dalam hidup ini. Dua ratus ribu apalah artinya bila dibandingkan dengan senyum mereka. Lelah perjalanan pun tak terasa. Mungkin banyak yang mengira, transfer bulanan sudah cukup menandakan rasa cinta, mewakili balas jasa atas semua yang telah diberikan.  Sekali lagi, selagi masih ada waktu.

Adzan subuh sudah lama berlalu ketika akhirnya senja utama-ku memasuki stasiun tugu. Ayahku sudah menunggu dengan sedan hijau tuanya sejak satu setengah jam yang lalu.  Hari ini, 17 agustus 2006, udara jogja di pagi hari terasa sejuk sekali, tak seperti jakarta yang penuh debu. Sesampainya di rumah, ibu dan adekku sudah berdiri di depan pintu. Kulihat raut wajah ibuku begitu senang. Syukurlah, aku bisa sedikit membahagiakannya. Aku akan pulang lagi bulan depan jika tak ada halangan, untuk sungkem sebelum ramadhan, dan menjumpai jogjaku sekali lagi.

One Response to “Jogja Kembali”

  1. ninapippo Says:

    HIks…tulisan yang menyentuh hati…jadi ingin merasakan ‘that’s feels’…(perasaan merindukan rumah dan keingin kuat membahagiakan…sukses selalu ya mb Fin….

Leave a Reply